Kamis, 30 Juni 2011

Sabtu

Tak ada perkataan yang tinggi dan sulit dimengerti
Seperti kau coba tafsirkan tetesan hujan
Selalu terhalang dan berakhir tanpa pandang
Selayak ini lebih menakutkan dari perang
Namun kau tak perlu menghunuskan pedang
Seribu kesempatan terbuang ditutup keterpaksaan
Akhir satu peluang berhasil menjadikan pemenang
lebih baik ku katakan aku akan selalu berusaha sayang daripada aku akan selalu sayang


Kenaglah

Sekilas melintas dan diteruskan tanpa batas
Imajinasi senyuman berparas
Tayangan perdana tentang kekuatan saat ini oleh esok hari
Hal yang baik bukan berarti menjadi orang baik
Keinginan yang ada akan membawamu padamulut neraka
Akan selalu hidup pohon pohon kematian
dan akan selalu tumbuh buah buah yang berdetak
Maka kenanglah semua tebasan dan segala pembebasan
Tulislah dengan darah agar selalu bernoda
Memusnahkan lupa oleh goresan goresan luka

Penulis : Fauzi Rahman

Selasa, 10 Mei 2011

Awan melawan kawanan

Saat sampah di sekelilingmu
Kau selalu menggangapku bersih
Namun saat berlian disekitarmu
Kau akan terus menganggapku sampah
Rencana pembodohanmu berjalan sangat mulus
Melangkah keatas dengan aku menopang badanmu
Kesepakatan sedikit demi sedikit tersingkirkan oleh kepalsuan
Mundur satu langkah di belakangku
Dan ceritakan semua omongkosong tentang diriku
Ku akan terus berjalan di sampingmu tanpa menatap matamu
Dan kami akan menemukan jatidiri kami dalam pandangan istimewa mu
Lihatlah siapa yang akan mencari dan siapa yang dicari
Jangan merasa raja karena sekarang kau ada di istana
Jika terbukti kau akan membiarkanku terdiam
Saat kesepakatan kita sedang kalian jalani
Aku akan menggangap surat resmi sudah diturunkan
Tak ada lagi ikatan yang akan membagi keringat kita
Mungkin kita bisa melangkah bersama dan saling menghalangi
Atau kita akan terus berlari dan dilupakan oleh jabatan

Penulis : Fauzi Rahman

Minggu, 27 Februari 2011

About Gie journal

Tak akan terlihat jika tak di pelajari !
Setelah bendera kebebasan berkibar tersapu angin
Ternyata masih terjadi pembantaian saudara
Perbedaan daratan tak lagi di perjuangkan
Kepercayaan menjadi alasan untuk masih mengibaskan sajam
Mereka yang terjerumus karena terdesak oleh keadaan
Menjadi korban mereka yang mengakui Tuhan
Tragedy pahit bagi mereka yang mengakui kekosongan dunia ini
Tak sedikit leher terpisah oleh mereka yang berkata “Tuhan Itu Ada”
Kami tak tahu mereka yang benar -benar percaya dan mengakui derajat mnusia sama berada dimana
Jasad yang masih bisa berkata hanya meminta jawaban yang sama
Kematian adalah jawaban yang sempurna bagi mereka
Permohonan terakhir akan di kabulkan setelah tubuh penuh goresan
Bangsa yang sombong karena keegoisan dalam pengakuan kemenangan
Orasi kaum terpelajar yang telah di palsukan karena mendengar imbalan
Sebuah negeri yang nasibnya tak akan di ketahui
Mengepalkan tangan bersama saat perbedaan kulit adalah target utama
Saling melontarkan tuduhan buta saat hanya ada satu warna dalam wilayah mereka
Kaum terdidik dan tersohor mencoba ikut menentukan nasib bangsa
Perintah tertinggi tak lagi di hiraukan dan kekerasan dipublikasikan oleh pejuang Negara
Para buruh semakin bertanya Tanya tentang masa depan anak cucu mereka
Tak ada kesalahan bisa musnah terkalahkan kekuasaan
Perintah menjadi alasan utama untuk menodongkan senapan
Pangkat menjadi alat untuk berbicara menentukan hidup atau mati seseorang
Pandanglah, tak ada makanan yang berbedauntuk kita makan
Berfikirlah manusiawi untuk memperbaiki nasip negeri ini
Jangan pernah menganggu jika kau tak terasa di ganggu kawan !

Penulis : Fauzi Rahman

Garis batas Pisu !

Terkadang “harus” dalam kehidupanku tidak diiringi dengan petuah orangtua dan harus berakhir dengan kata “dusta”
Kehidupan yang masih jauh dikejar karena kami berfikir tentang semua keadaan ini
Selalu ingin menunjukan kebanggaan dalam suatu pengalaman pahit kehidupan muda
Namun terlihat hitam dan selalu saja hitam dimatamu
Kami percaya suatu saat pasti muncul di permukaan walaupun tenggelam di dasar laut
Berseragam dan mendengar teori kehidupan mungkin bukan jalan kami
Kami terus mencari jalan dan mengajukan pertanyaan tentang kekosongan ini
Jalan ‘harus’ yang terpandang sebelah mata karena kabut hitam yang sudah melekat dalam pandanagan kalian menjadi jalan pintas kami
Kami harapkan setiap lembaran buku kebanggaan di gantikan oleh tetesan keringat kami
Ilmu kami resapi yang menuntun jalan kami
Rasakan tanpa pertimbanagan untuk mengecam
Percayalah semua benih yang kami tanam akan berbuah lebat !

Penulis : Fauzi Rahman

Job shit

Terperangkap dalam lingkup orang dewasa pembodohan, Asu kalian !
Semua barang bukti terbeli tanpa diketahui
Kami hanya berdiri mencari angin berlari
Mulut kami bisu karena kami orang baru
Terkadang, sekilas melangkah tapi kami dalam ikatan
Persetan dengan kewajiban kalian yang tak pernah memandang kami
Mencoba menjalankan semua namun tak ada guna
Mencoba mencari jawaban sendiri tetapi hanya ini
Selalu ingin bertanya tapi apa?
Mungkin ini awal atau mungkin sampai mati
Kata pepatah seakan kau abaikan
Wajah kalian tak sempurna, otak kalian tak jalan
Bos hanya bisa menyuruh dan tak pernah isa memberi jalan
Mungkin ini semua ramalan jalan kami
Selau gelap dalam kebenaran dan terang dalam kebohongan
Seharusnya kalian menuntun kami bukan hanya melirik kami
Semua ilmu dalam angan seakan terlupakan melihat lingkaran wajah kalian
Hasil belum dapat dilihat karena lembaran masih kosong
Manusia bijak tak pernah berfikir ! Tai !

Penulis : Fauzi Rahman

Kebanggaan yang terlupakan

Pertemuan masa dulu dan kini menjadi problema
Dahulu bintang terakhir menjadi fokus perlindungan
Selalu mengatakan kebohongan untuk melihat senyuman
Terpaksa memilih jalan pintas palsu walau bencana sudah di depan
Mungkin bintang pertama mengerti tapi memilih membisu
Kebisuan diramalkan dan dibenarkan
Saat semua bintang telah bersinar
Hanya satu bintang yang meredup dan terus menghilang
Kehidupan omong kosong terus dijalani
Semua selalu memberi dan tak harap kembali
Kematian yang menyebabkan semua ini
Dan kasih sayang yang telah menghilang yang membuat ini semakin menjadi

Penulis : Fauzi Rahman

Senin, 10 Januari 2011

Debotake

Percaya , jarum jam dapat mengubah segalanya
Berawal dari lamunan masa muda yang kosong
Menuju perjalanan hati ke jalur kuning esok hari
Moment melepas penat di sore hari melempar topi menjadi malam yang sempurna yang ditunggu
Dorongan orang yang berwarna hitam di jantung dan merah di mulut menjadi jurus terjitu untuk membuka gerbang rasa yang lelah memberontak
Terima kasih untuk gurauan lama yang di munculkan kembali karena masalah rasa kontak mata
Maafkan, kalian yang mendapat pujian palsu dariku
Langkah dekat yang dipenuhi kebimbangan terobati karena adanya jadwal kebersamaan yang di belokkan
Kata itu membayangiku penuh dengan tanda Tanya, Meski kalimat tersusun tanpa adanya keteraagan
Dan kuberi ungkapan kepercayaan
Semua masalah yang tak ingin diberitakan akan menjadi sumbet kekeliruan di depan
Karena terkalahkan kebenaran yang dapat dipandaang
Tidak ada masalah karena diselimuti kebanggaan walau jauh terabaikan
Kebimbangan masih tersisa karena ketakutan
Mungkin jika malam itu sudah berlalu
Aku akan tersenyum lantang tanpa beban atau benar benar menanggis bagai wanita baru
Semua itu belum terjadi
Ku tunggu jalan yang jelas dari semua kejadian di malam yang kutunggu itu
Semoga ku tidak terpaku dan membeku oleh perjalanan waktu buntut dari semua itu
Jalani semua ini tanpa ada yang menghalangi, lantang maju kedepan tanpa menoreh kebelakang !

Penulis : Fauzi Rahman

Caramel

Tentang kebohongan yang masih diakui khayalak
Dan terjafi padaku tanpa pengejaran yang berarti
Berharap catatan abstrak terjadi begitu saja tanpa hitungan paras kemajuan
Apa lebih dari hitungan jam pasir?jika focus pada satu hal
Perbandingan serupa diskriminasi kulit hitam jaman peluruberujung petaka jika lembaran itu tak dating dan jadi bencana jika pabrik mengetahui semua di belakangku

Penulis : Fauzi Rahman

Rutinitas matahari palsu di negriku

Sepintas kumerenungkan awan hitam yang selalu mengikuti negeri ini
Tersadar diri sendiri masih berpegang pada tiang untuk tetap berdiri menantang
Semua kita kembalikan pada orang yang menatap anda di dalam cermin
Tak ada yang salah jiak kita berani menggoreskan tinta pada catatan hitam negeri ini
Mungkin karena layar kaca di negeri ini selalu menampilkan hitam dan merah
Namun cobalah kepalkan tanganmu sendiri sebelum mengisyaratkan kepalan pada semua orang
Cobalah terdiam sejenak untuk melihat semua keajaiban dari akibat
Kau bisa, kau akan terus berjalan diantara seribu pertanyaan
Kau akan mundur satu langkah untuk maju tiga langkah kedepan
Maka perangilah setan yang ada di dalam dirimu sendiri !

Penulis : Fauzi Rahman