Minggu, 27 Februari 2011

About Gie journal

Tak akan terlihat jika tak di pelajari !
Setelah bendera kebebasan berkibar tersapu angin
Ternyata masih terjadi pembantaian saudara
Perbedaan daratan tak lagi di perjuangkan
Kepercayaan menjadi alasan untuk masih mengibaskan sajam
Mereka yang terjerumus karena terdesak oleh keadaan
Menjadi korban mereka yang mengakui Tuhan
Tragedy pahit bagi mereka yang mengakui kekosongan dunia ini
Tak sedikit leher terpisah oleh mereka yang berkata “Tuhan Itu Ada”
Kami tak tahu mereka yang benar -benar percaya dan mengakui derajat mnusia sama berada dimana
Jasad yang masih bisa berkata hanya meminta jawaban yang sama
Kematian adalah jawaban yang sempurna bagi mereka
Permohonan terakhir akan di kabulkan setelah tubuh penuh goresan
Bangsa yang sombong karena keegoisan dalam pengakuan kemenangan
Orasi kaum terpelajar yang telah di palsukan karena mendengar imbalan
Sebuah negeri yang nasibnya tak akan di ketahui
Mengepalkan tangan bersama saat perbedaan kulit adalah target utama
Saling melontarkan tuduhan buta saat hanya ada satu warna dalam wilayah mereka
Kaum terdidik dan tersohor mencoba ikut menentukan nasib bangsa
Perintah tertinggi tak lagi di hiraukan dan kekerasan dipublikasikan oleh pejuang Negara
Para buruh semakin bertanya Tanya tentang masa depan anak cucu mereka
Tak ada kesalahan bisa musnah terkalahkan kekuasaan
Perintah menjadi alasan utama untuk menodongkan senapan
Pangkat menjadi alat untuk berbicara menentukan hidup atau mati seseorang
Pandanglah, tak ada makanan yang berbedauntuk kita makan
Berfikirlah manusiawi untuk memperbaiki nasip negeri ini
Jangan pernah menganggu jika kau tak terasa di ganggu kawan !

Penulis : Fauzi Rahman

Garis batas Pisu !

Terkadang “harus” dalam kehidupanku tidak diiringi dengan petuah orangtua dan harus berakhir dengan kata “dusta”
Kehidupan yang masih jauh dikejar karena kami berfikir tentang semua keadaan ini
Selalu ingin menunjukan kebanggaan dalam suatu pengalaman pahit kehidupan muda
Namun terlihat hitam dan selalu saja hitam dimatamu
Kami percaya suatu saat pasti muncul di permukaan walaupun tenggelam di dasar laut
Berseragam dan mendengar teori kehidupan mungkin bukan jalan kami
Kami terus mencari jalan dan mengajukan pertanyaan tentang kekosongan ini
Jalan ‘harus’ yang terpandang sebelah mata karena kabut hitam yang sudah melekat dalam pandanagan kalian menjadi jalan pintas kami
Kami harapkan setiap lembaran buku kebanggaan di gantikan oleh tetesan keringat kami
Ilmu kami resapi yang menuntun jalan kami
Rasakan tanpa pertimbanagan untuk mengecam
Percayalah semua benih yang kami tanam akan berbuah lebat !

Penulis : Fauzi Rahman

Job shit

Terperangkap dalam lingkup orang dewasa pembodohan, Asu kalian !
Semua barang bukti terbeli tanpa diketahui
Kami hanya berdiri mencari angin berlari
Mulut kami bisu karena kami orang baru
Terkadang, sekilas melangkah tapi kami dalam ikatan
Persetan dengan kewajiban kalian yang tak pernah memandang kami
Mencoba menjalankan semua namun tak ada guna
Mencoba mencari jawaban sendiri tetapi hanya ini
Selalu ingin bertanya tapi apa?
Mungkin ini awal atau mungkin sampai mati
Kata pepatah seakan kau abaikan
Wajah kalian tak sempurna, otak kalian tak jalan
Bos hanya bisa menyuruh dan tak pernah isa memberi jalan
Mungkin ini semua ramalan jalan kami
Selau gelap dalam kebenaran dan terang dalam kebohongan
Seharusnya kalian menuntun kami bukan hanya melirik kami
Semua ilmu dalam angan seakan terlupakan melihat lingkaran wajah kalian
Hasil belum dapat dilihat karena lembaran masih kosong
Manusia bijak tak pernah berfikir ! Tai !

Penulis : Fauzi Rahman

Kebanggaan yang terlupakan

Pertemuan masa dulu dan kini menjadi problema
Dahulu bintang terakhir menjadi fokus perlindungan
Selalu mengatakan kebohongan untuk melihat senyuman
Terpaksa memilih jalan pintas palsu walau bencana sudah di depan
Mungkin bintang pertama mengerti tapi memilih membisu
Kebisuan diramalkan dan dibenarkan
Saat semua bintang telah bersinar
Hanya satu bintang yang meredup dan terus menghilang
Kehidupan omong kosong terus dijalani
Semua selalu memberi dan tak harap kembali
Kematian yang menyebabkan semua ini
Dan kasih sayang yang telah menghilang yang membuat ini semakin menjadi

Penulis : Fauzi Rahman