Senin, 08 November 2010

WANKEEP

Sekarang kuberjalan di tengah ketidakpastian perkataan diantara iya dan tidak samasekali
Ku melangkah dan tak pernah memutuskan
Keadaan pagi yang basah karena sepintas iklan mendorong untuk mencapai puncak yang dilaknat para ulama
Jaman sudah berganti peraturan ingin tetap dijalani seperti ocehan petuah para wali
Kami inginkan mati jika tak terpenuhi
Kalian inginkan terkunci dan menunggu perundingan rapat tiga menteri
Semua ini tentang hidup dan mati para santri yang terkunci di kamar mandi karena pergi di tengah hari
Semakin cepat bermimpi semakin cepat kami ingin mati
Kekuatan sugesti kabel TV seperti semudah membalikkan tangan
Kami akan terus bernyanyi dan melarikian diri dari kalian yang jadi perantara mencipta kami yang sesungguhnya kebenaran itu terjadi
Mimpi itu menjadi kebutuhan sehari hari
Mungkin karena mereka terlalu sakti untuk tidak membuat kami menutupi diri
Kami ingin melakukan walaupun dengan setan
Kami ingin menyiksa walaupun tak tersisa
Bagi kalian kaum hawa
Cobalah tutupi semua yang kau bisa resapi dan sembunyikan untuk menolak
Setan sudah mengelilingi kami jika kalian berani

Penulis : Fauzi Rahman

MORTANSIS

Ku tak melihat tetesan air hujan
Ku tak melihat awan hitam
Tapi tiba-tiba ku mendengar petir menyambar
Ku tak percaya ini terjadi
Ku tak dapat menembus pandangan awan diatas kepalamu
Kau tak pernah mempunyai kekurangan untuk kejadian ini
Tapi kami tak akan berpaling dan akan selalu dibelakangmu
Jangan pernah putus asa untuk melanjutkan semua yang telah terjadi
Tak perlu menyesali kesalahan
Berpikirlah kedepan kawan

Semua ini seakan hanya lelucon bangku sekolah
Tapi ini benar benar terjadi dan tak bisa dipercaya
Kenapa dia tak pernah menampakkan wajah busuk itu dibalik topengnya?
Kenapa dia selalu telihat berjalan lurus kedepan?
Kenapa kau tak pernah bercerita tentang goresan itu?
Kenapa kau terlalu polos untuk mengalami semua ini?
Ku tak bisa bayangkan
Kau yang biasanya memanggil dengan wajah polosmu itu menanggis karena kebusukan orang bodoh yang mendiami semua pikiran kosongnya
Kalian terlau bodoh!
Akar akan selalu diambang tangisan
Semuanya hanya bisa mengatakan “hadapi”
Kau tak pernah melihat hari esok
Semoga esok cerah dan berhembus angin damai
Tak bisa kupercaya !